Searching...
Rabu, 24 September 2014

Absurd Saat di Surabaya

Sebenarnya perjalanan ke Surabaya hanya untuk menghadiri pernikahan sahabatku, Astrid. Sahabat backpacker-ku yang kece. Aku berangkat ke Surabaya Sabtu siang sementara acara sahabatku hari Minggu dan Senin balik ke Bandung lagi. Untuk beli oleh-oleh saja nggak yakin sempet apalagi mau keliling Surabaya. Beruntungnya, ada temannya Astrid bernama Mitha yang baik hati mau membelikan oleh-oleh. Wuah, seneng donk. Hihihi. Oleh-oleh sudah aman, tapi kok ya masih kepingin jalan-jalan? At least, di sekitar homestay.

Tiba di Bandara Juanda, aku menempuh perjalanan hampir 2 jam. Iya lama, karena ngetem naik bis dan berjodoh dengan sopir taxi yang baru bekerja 3 hari dan tidak tahu jalan di Surabaya. hiks. Setelah berkeliling mencari homestay yang sudah dipesan Astrid, aku tiba juga di homestay sekitar jam 16.00 WIB. "Hmm, mumpung masih sore bisalah ke luar", pikirku saat itu. Tanpa berkipir panjang, aku langsung menghubungi Mitha dan menanyakan tempat yang asyik di sekitar homestay. Mitha merekomendasikan ke ice cream Zangrandi. Menurut Mitha, dari homestay menuju Zangrandi hanya menaiki sekali bemo (*masyarakat Surabaya menyebut angkutan umum itu bemo). Aku langsung mengikuti instruksi dari Mitha dengan menaiki Bemo lambang E warna hijau muda dan berhenti diperempatan Balai Pemuda.

10 menit kemudian, tibalah di perempatan Balai Pemuda. Perempatan Balai Pemuda itu memiliki air mancur dan kebetulan saat itu ada bapak polisi yang sedang merazia kendaraan. Menurut Mitha aku harus menyebrang sekali ke arah depan. Hughft, aku kan bingung ke arah depan itu jalan yang mana? Tololnya lagi, aku tidak googling dan menanyakan lokasi Zangrandi yang menjadi tujuan utama kepada bapak polisi. Polisinya sedang sibuk sedang sibuk. *teringat triping salah seorang teman saat osjur. Aku pun berjalan santai mencari lokasi Zangrandi dengan langkah percaya diri. *sambil pura-pura memotret padahal sebenarnya absurd.

Dari sinilah ke-absurd-an dimulai
Ternyata ada pusat informasi wisata di Balai Pemuda

Setelah lama berjalan, Zangrandi tidak juga kelihatan. Mau bertanya kepada orang tak bisa karena pejalan kakinya pun jarang. Sampai akhirnya aku menemukan seorang bapak berketurunan Arab. Aku bertanya, "Pak, lokasi ice cream Zangrandi dimana ya?" "Oh, adik jalan ke arah perempatan air mancur kemudian belok kiri. Sampai di lampu merah berhenti dan lokasi Zangrandi terletak di depan lampu merah", kata bapak dengan jawaban detail. "Oke, makasih Pak", kataku sambil pamit. Eng ing eng ternyata salah jalan. Begini nih kalau malu bertanya kepada bapak polisi, sesat di jalan deh.

Nyasar ke sungai yang dilihat lebih bersih dari Sungai Cikapundung, Bandung

Aku berjalan balik arah ke perempatan. Setelah sempat tersesat karena tidak peka dengan lokasinya, akhirnya tiba juga di ice cream Zangrandi. Aku menanyakan menu favorit kepada pelayannya dan tanpa berpikir panjang langsung memesan menu tersebut. *btw, untuk review ice cream Zanggardi pada posting lain ya.

Tak lama duduk di Zangrandi aku langsung bertanya kepada Mitha tempat nongkrok sekitar Balai Pemuda. Mitha merekomendasikan Taman Bungkul. Menurut Mitha lokasinya deket banget dan bisa berjalan kaki. Aku langsung percaya dengan Mitha. Langkah demi langkah aku lalui sepanjang jalan dan hanya menemukan monumen bambu runcing. Sedangkan Taman Bungkul tak juga muncul. Mau bertanya pun belum ada pejalan kaki yang lewat. Surabaya memang sedikit pejalan kaki trotoarnya yah. Sampai akhirnya aku bertemu bapak security dan menanyakan Taman Bungkul.

Monumen bambu runcing yang fenomenal di Surabaya

"Permisi Pak, kalau Taman Bungkul masih jauh ngga yah?" tanyaku kepada bapak security. "Taman Bungkul jalan lurus terus dari sini dan lumayan jauh kalau berjalan kaki", jawab si Bapak. "Oh gitu Pak, ada bemo ngga yang melewatinya?", tanyaku lagi. "Ada. Bemo lambang P yang berwarna biru dongker", jawab bapak security. "Makasih infonya Pak", kataku.

Aku menunggu bemo lambang P. Setelah lama menunggu akhirnya bemo yang dicaripun tiba. Aku langsung bergegas dan minta ke pak sopir agar diberhentikan di Taman Bungkul. Setelah hampir 10 menit, akhirnya sampai di Taman Bungkul.

Taman Bungkul saat senja

Tiba di Taman Bungkul, adzan maghrib berkumandang. Aku tidak melihat masjid atau musholla di sekitar. Aku hanya melihat *FC. Hmm, biasanya *FC mempunyai musholla deh. Aku memutuskan untuk makan di *FC dengan hasrat utama makan malam. Eh salah, sholat maghrib di musholla *FC. Saat memesan menu, aku langsung menanyakan musholla kepada pelayannya. Ternyata tidak ada musholla di *FC. Waduh, misiku ngga berhasil donk. Yasudahlah memang rejekinya *FC barangkali yah. Aku langsung makan dengan cepat dan berharap masih ada waktu saholat maghrib.

Aku menghubungi Mitha (lagi) dan menanyakan masjid atau musholla terdekat dari Taman Bungkul. Mitha menjawab Masjid Al Falah. Aku pun kembali ke Taman Bungkul dan bertanya kepada mas-mas yang mengatur parkir dimana Masjid Al Falah. Ternyata lokasinya jauh tapi ngga terlalu jauh juga dari Taman Bungkul. Setelah menemukan Masjid Al Falah, aku langsung bergegas masuk masjid dan berharap masih ada waktu sholat maghrib.

Usai sholat, aku kembali ke Taman Bungkul. Pengunjung Taman Bungkul sudah ramai dengan pasangan muda-mudi. Maklum malam mingguan.

Taman Bungkul saat malam minggu

Tak betah berlama-lama sendirian dan melihat orang berpacaran di sekitar, aku menghubungi Iktri. Iktri juga berangkat ke Surabaya hari Sabtu sore. Berharapnya dia sudah sampai di homestay dan mau ke luar menghabiskan malam minggu. Setelah dihubungi, Iktri memang baru sampai di homestay dan berencana ke Zangrandi dan Bebek kayu tangan. Karena sudah ke Zangrandi, aku penasaran dengan bebek kayu tangan. Bebek kayu tangan? Dimana itu, tri? Setelah googling, Iktri pun menemukan 4 lokasi bebek kayu tangan. Waduh ada 4 lokasi lagi. Mana yang terdekat dengan Taman Bungkul yah? Akhirnya aku menanyakan kepada pengunjung Taman Bungkul yang tidak berpacaran. *yang lagi pacaran cuek sih orangnya. Menurut mba-mba yang aku tanya, lokasi terdekat terletak di Jl Bratang Gede. Tapi nggak ada bemo yang lewat ke sana dari Taman Bungkul. Yasudahlah naik taxi saja.

Saat menaiki taxi, ternyata bapak sopir taxi juga tidak tahu bebek kayu tangan. Sopir taxi pun bertanya kepada penduduk di sekitar Jl Bratang Gede. Kata sopir taxi, bebeknya sedikit lagi sampai. Semenit kemudian, aku diturunkan di lokasi warung bebek. Aku kira bebek kayu tangan, eh ternyata bebek palupi. Huhuhu. Yang penting sama-sama bebek deh. Aku langsung memesan bebek yang namanya unik. Dan tak lama kemudian bebek pun berada di atas meja. Aku langsung melahap makanannya. Yummy!

Jam menunjukkan 20.30 WIB. Sebagai anak baik apalagi tak familiar dengan Surabaya, aku pun langsung pulang ke homestay. Tiba di homestay, aku mendapat pesan dari Iman, temanku yang baru sampai dari Bandung. Mumpung ada teman dan akunya juga belum puas keliling Surabaya, aku minta ikut bersama Iman, Sufi, Anto ke luar. Tapi mereka mau mandi dan segala macam dulu. Beruntungnya tak lama kemudian, Iktri datang bersama Reni. Kami pun langsung ngobrol-ngobrol. Saat keasyikan ngobrol, aku lupa dengan Iman dkk. Ternyata mereka telah menelpon dan memberikan pesan berkali-kali kepadaku tapi tak ditanggapi. Maap yah, keasyikan ngobrol jadi lupa deh rencana sebelumnya.

4 komentar:

  1. Selama masih bisa didokumentasikan pasti setiap gambar bisa ajdi tulisan/cerita :-D

    BalasHapus
  2. Jalan-jalan sendirian emang enak ya, nggak ada yang ngatur, mau kemanapun sesuai keinginan oke-oke aja. Hehee :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, solo traveling ada enaknya juga

      Hapus

 
Back to top!