Searching...
Jumat, 03 Oktober 2014

Duh, Malunya Saat ke Suis Butcher

Steak merupakan contoh akulturasi budaya barat yang masuk ke Indonesia. Hidangan sekerat daging yang diolah dengan dipanggang atau digoreng dengan sedikit lemak atau minyak ini sudah banyak ditemukan di Indonesia. Termasuk Bandung yang merupakan surga kuliner di Indonesia.

Wuah, sudah beberapa minggu tidak menyicipi steak, kayaknya makan steak di siang bolong enak nih. Banyaknya gerai steak di Bandung cukup membuatku sulit untuk memutuskannya. Hmm, kelihatannya Suis Butcher Steak House enak nih. Sebenarnya gerai Suis Butcher ada dua di Bandung yaitu Jl. Riau dan Jl. Setia Budi. Dipikir-pikir kok lebih asek ke Jl. Setia Budi yah. Cuma sekali naik angkot soalnya. Hihihi.

Tiba di Suis Butcher, aku langsung disambut oleh seorang waiter. Lalu waiter memberikan menu dan aku langsung memilih lamp chop, tiramisu, dan ice tea.

Saat menunggu waiter menyajikan menu, aku langsung mengeluarkan kamera bututku untuk mendokumentasikan Suis Butcher. Sayang banget kalau tidak mendokumentasikan tempat yang cozy ini. Sebenarnya ruangan Suis Butcher ada dua ruangan; ruangan luar dan ruang dalam. Menurutku ruangan dalam lebih cozy dan fotogenik. Deretan foto yang terpampang di dinding dan lampu-lampu gantung menambah cantiknya ruangan.

Dekorasi interior yang cantik

Seorang waitress datang menyajikan sebuah gelas dan botol guedee yang berisi air putih kepadaku. Hati kecilku berkata, "aku kan ngga pesan air putih". Aku pun celingak-celinguk melihat pelanggan lainnya. Oh ternyata tiap meja diberikan sebotol guedee air putih toh.

minum air putih sendiri sebanyak ini sangat memberatkan ginjal

Akhirnya lamp chop yang dipesan tiba. Lamp chop merupakan iga kambing panggang yang disajikan dengan kentang goreng, sayuran, dan saos barbeque. Iga kambingnya empuk dan ngga ada aroma kambing yang menyengat. Kentang gorengnya gurih, warnanya kuning, dan pastinya ngga gosong seperti gerai fast food yang sedang kebanjiran order. Sayurannya terdiri dari jagung, kacang polong, dan wortel yang direbus matang tapi masih empuk. Saos barbeque sudah tercampur dengan sambel sehingga menimbulkan rasa pedas yang masih dalam tahap wajar. Aku sangat menikmati lamp chop tersebut. Dan lamp chop pun habis dengan cepat.

lamp chop

Entah kenapa perutku masih belum full. Aku memanggil waitress dan waitress pun membawa tiramisu yang sudah dipesan sebelumnya. Sebelum waitress berbalik, aku langsung memesan menu lain yaitu sirloin a’la Suis. "Sirloinnya dibungkus mba?" tanya waitress kepadaku. "Bungkusnya pakai kotak ya mba?" jawabku sedikit berbasa-basi padahal maunya makan di tempat. "Iya, kotakan gituh", jawab waitress. "Hmm, dagingnya seberapa besar mba? Ngga terlalu besar kan?" tanyaku dengan berbasa-basi (lagi). "Cuma 150 gr kok", kata waitress. "Hmm, makan di sini saja deh mba", kataku dengan spontan. Waitress langsung shock denganku yang minta nambah menu utama lagi. Duh, malu euy. Meskipun berat badanku kecil kalau lagi nafsu, makanku juga banyak loh. *tutupmuka

Tiramisu sudah di meja. Tapi kok aku maunya makan siorloin dulu yah. Heuuu. Sepertinya chef dan waiter tau isi hatiku. Tak lama kemudian sirloin a’la Suis dihidangkan oleh seorang waiter. Aku pun menyicipi sirloinnya. Ciri khas sirloin a’la Suis adalah daging sirloin yang disajikan dengan salad dan saus jamu. Kebetulan daging sirloin yang disajikan memiliki tingkat kematangan well done. Alhasil aku harus berjuang membelah dagingnya. Salad dan kentang gorengnya fresh dan enak. Saus jamu yang menjadi keunggulan hidangan pun tidak pahit seperti minum jamu kebanyakan. Selain itu, tidak ada juga aroma jamu yang menusuk hidung. Meskipun rasa sirloin hampir mirip dengan sirloin lainnya tapi hidangan sirloin a’la Suis recommended kok.

sirloin a'la Suis

Sebenarnya makan dua menu utama itu sudah membuatku poolll. Tapi si tiramisu sayang juga kalau dibawa pulang. Aku pun menyicipi tiramisu yang mungil tapi menggoda. Satu per satu tiramisu yang disuap habis karena rasa cake-nya lembut, coklatnya ngga kemanisan, dan whipping cream cukup manis. Hmm, enak banget deh tiramisunya dan wajib dicoba loh.

Tiramisu

Semua menu sudah habis dicoba dan aku pun meminta waitress untuk membawakan bill. Lalu aku langsung membayarnya. Total harga sekitar Rp 120K. Harga yang cukup terjangkau dengan porsi makanan yang sebanyak itu.

Cara Menuju Suis Butcher Steak House

Letak Suis Butcher yang di Jl. Setia Budi No 174 cukup strategis. Letaknya berdekatan dengan Griya Setia Budi dan di seberang jalan sebelum pertigaan Jl. Geger Kalong kalau dari arah Rumah Mode. Transportasi umum yang lewat adalah Caheum – Ledeng, Kalapa – Ledeng, dan St. Hall – Lembang.

Suis Butcher Steak House Setiabudi 
Jl. Setiabudi No.174, Bandung, 40141
Telp: 022-2033172
Fax: 022-2038829
Twitter: @SUISButcher
Buka:
Minggu s.d Jumat Jam 11.00 - 23.00 WIB (Last Order Pukul 22.30)
Sabtu Jam 11.00-23.30 WIB (Last Order Pukul 23.00)
Harga:
Steak (Rp 39K- Rp 70K), Wagyu (Rp 130K)
Fish (Rp 57.5K)
Desserts (Rp 14.5 – Rp 19.5K)
Soup dan salad (Rp 18.5K – Rp 19.5K)
Pasta (Rp 21.5K – Rp 27.5K)
Minuman (Rp 5K – Rp 17K)

7 komentar:

  1. Tiramisunya cukup menggoda, tapi karena gak suka makan daging, kentang gorengnya OK lah buat cemilan sore. Kalau ke Bandung sukanya makan yang selain steik. Mungkin lotek Alkatiri, kopi Aroma, dan Toko kue Sumber Hidangan layak dicoba untuk kuliner berikutnya hehehe. Usul aja sih ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih idenyo bro
      tenang ajah bdg kan surga kuliner & msh banyak referensi yg bs dimuat di blog ini
      Rencananya juga mau masukin kuliner kaki lima. Banyak yg enak2 juga soalnya

      Hapus
  2. Gapapa msk, ga usah jaim klo lagi lapar, aq juga biasa cuek kok :))))

    BalasHapus
  3. wah ngiler nih jadinya, hehehe
    salam kenal ya mass, :)

    BalasHapus
  4. Lamp = lampu
    Chop = dipotong2
    lamp chop = lampu dipotong2 heheheh mungkin maksudnya lamb chop ya mbaa :) :)

    BalasHapus

 
Back to top!